Karyamu
KERJA KERASKU MEMBUAHKAN HASIL
Sore itu, langit-langit yang semula terang benderang tiba-tiba menjadi gelap gulita karena tertutup awan hitam. Udara yang semula panas dengan seketika menjadi dingin karena kencangnya angin yang bertiup. “Aduhhh… gimana niii… dah waktunya pulang lagi”, seru Amerta dengan gundah. Dan tiba-tiba, “Kenapa Mer, kok kayanya cemas gitu…”, tanya Rifka sambil memegang pundak Amerta dan Amerta pun terkejut. “Iya kenapa…” jawab Amerta sambil terkejut. “Ooo…kamu Rifka, aku kira siapa… Ga da apa-apa kok…”, jawab Amerta sambil mengusap dahinya yang berkeringat. “Bner ga da apa-apa…”, tegas Rifka. “Iya ga da apa-apa kok…”, jawab Amerta seraya menutupi kecemasannya. “Ok…klo gitu aku pulang dulu ya…pay….”, pamit Rifka.
Tak lama setelah Rifka pulang, Amertapun bergegas menyelesaikan pekerjaannya. Dan DEEEEEERRRRR…. Suara petirpun mulai terdengar sangat tajam dan turunlah hujan dibarengi oleh angin yang sangat kencang, semakin lama Amertapun merasa takut. Sendiri… ya… Amerta tertinggal di kantornya, semua teman-temannya tlah pulang lebih dulu. Sekilas Amertapun berpikir “Kapan ya… aku bisa seperti teman-temanku, bisa cepet pulang dan tidak harus berkotor-kotor seperti aku…”. Kemudian smua itu, Amerta tepis “Sudahlah… aku tetap bersyukur karena aku masih diberi rizky Allah tuk bekerja diperusahaan ini”. Walau dengan perasaan takut, akhirnya Amertapun kembali bersemangat. “Bisa… pasti aku bisa…” kata itulah yang selalu menyemangati dirinya.
Malam tlah semakin larut, tubuh yang semula segar dan penuh semangat, kini mulai merasakan letih. “Aku harus pulang…lagian untunglah hujan mulai reda”, seru Amerta sambil menyiapkan diri untuk pulang. Malam ini tepat jam 9, jalan-jalan sudah terlihat sangat sepi. Hanya satu dua orang saja yang masih terlihat, kendaraanpun sudah mulai jarang yang lewat. Amertapun bergegas mempercepat langkahnya.
Setiba di rumah, “Assalamu alaikum… bu… ibu di mana?”, tanya Amerta sambil mencari-cari ibunya keseluruh ruangan. “Ibu di sini nak…ibu di dalam kamar”, sahut ibunya. “Ibu lagi ngapain? tumben di kamar, sudah makan?”, tanya Amerta. “Belum, ibu nunggu kamu”, jawab ibunya. “Makan yuk bu…Amerta sudah lapar”, kata Amerta. “Yuk…”, sahut ibunya.
Amerta tinggal bersama ibunya, orang yang telah berjuang untuk menghidupinya. Tak ada lagi sanak saudara bahkan seorang ayah, ayah Amerta telah meninggal sewaktu Amerta duduk di kelas 1 (satu) sekolah dasar. Ayahnya meninggal dalam tragedi sewaktu ia bekerja sebagai buruh pabrik. Hancur berkeping-keping hati seorang ibu, orang yang paling iya sayang telah pergi mendahuluinya. Takkan lupa dibenak Amerta, sewaktu jenazah ayahnya di usung ke rumahnya. Tak terasa air mata Amertapun berlinang dan hanya satu kata yang ada di benak Amerta saat itu, “Aku harus menjadi ayah, aku harus membahagiakan ibuku”.
Kini Amerta telah dewasa, usahanya untuk membahagiakan ibunya kini telah terwujud. Walaupun ia hanya bekerja sebagai pesuruh di suatu perusahaan, hatinya tetap senang karena dapat membahagiakan ibunya.
“SLAMAT…. PAGIIIIII… SANG FAJAR…”, sambut Amerta dengan tersenyum. “Wah… sudah jam 4 pagi… aku harus segera siap-siap berangkat kerja ni…”. Amerta pun segera bangun dan bersiap tuk berangkat kerja. “Mmm… wangi sekali… makasi ibu… ibu dah masak makanan kesukaanku”, rayu Amerta kepada ibunya. Walau cuma tempe goreng dan sayur daun singkong, Amerta tetap lahap memakannya. Ya… beginilah Amerta, selalu bersyukur dengan apa yang ia peroleh. “Ibu aku berangkat… Assalamu alaikum”, salam Amerta. “Ati-ati nak, walaikum salam…”, sahut ibunya.
Setiba di tempat ia bekerja, ia langsung mengerjakan apa saja yang bisa dan memang harus ia kerjakan. Setiap waktu istirahat tiba, Amerta selalu menyisihkan waktunya untuk membuat sebuah kerajinan tangan dari bahan-bahan bekas yang ia temukan di kantin. Amerta memang sangat rajin, sampai-sampai teman-temannya rela untuk membeli hasil karyanya yang sederhana itu. Selain sederhana, kerajinan tangan yang Amerta buat memang memiliki keindangan tersendiri, keindahan yang tidak semua orang memilikinya.
Amerta selalu bekerja keras, waktu demi waktu ia habiskan hanya untuk membahagiakan ibunya. Cinta kasih seorang ibu merupakan obat dari segala obat dan pemacu semangat yang sangat dahsyat. “Mer… sedang apa kamu?”, tanya atasannya. “Biasa pak bersih-bersih…”, jawab Amerta. “Bisa kamu ke ruangan saya sebentar…”, tanya atasannya. “Bisa pak, sebentar saya rapikan ini dulu pak”, jawab Amerta.
Saat di ruangan atasannya, mujizatpun terjadi. “Alhamdulillah… terima kasih ya Allah…”, seru Amerta sambil dengan hati yang gembira. Atasannya memberikan modal untuk membantunya mengembangkan hobbinya membuat kerajinan bahan bekas dan karena usahanya yang ulet dan pantang menyerah, akhirnya usahanya pun maju dan membuahkan hasil. “Ya Allah… sembah sujud ku haturkan kepadamu karena kerja kerasku membuahkan hasil… terima kasih ya Allah… dan tak lupa terima kasihku untukmu ibu, karena tanpamu entah apa jadinya aku ini sekarang…”, syukur Amerta.
Karya : Kusma Miretna
Jakarta, 23 Mei 2006

