Selamat Datang di Heri Personal Blog

     Posting : 4 May, 2006

Hari-Hari Terakhir Kehidupan Rasulullah

Masuk Kategori: Agama, Milis myQers
Hari-Hari Terakhir Kehidupan Rasulullah


Akhirnya, makin mendekatlah hari yang harus dihadapi oleh tiap-tiap manusia. Pekerjaan Rasulullah s.a.w. telah selesai. Semua yang diwahyukan Tuhan kepada beliau untuk kesejahteraan manusia telah diwahyukan. Jiwa Muhammad s.a.w. telah meresapkan kehidupan baru kepada kaumnya. Suatu bangsa baru telah timbul dengan pandangan hidup baru dan pranata-pranata (adat-adat) baru; pendek kata, langit baru dan bumi baru. Dasar-dasar tertib baru telah diletakkan.
 
Tanah telah dibajak serta diairi dan benih disemai menjelang musim panen baru. Dan sekarang musim panen itu sendiri berangsur mulai nampak. Tetapi bukan beliau yang akan menuainya. Kewajiban beliau hanya membajak, menanam, dan mengairi. Beliau datang sebagai pekerja, beliau tetap sebagai pekerja dan sekarang telah datang saatnya untuk berangkat sebagai pekerja. Beliau meraih ganjaran bukan dalam bentuk bendabenda duniawi, tetapi dalam bentuk keridhaan Ilahi, Khaliq dan Majikan beliau.
 
Ketika saat musim panen tiba, beliau lebih menyukai pergi kepada Dia, membiarkan orang-orang lain memungutnya.

Rasulullah s.a.w. jatuh sakit. Beberapa hari beliau masih tetap datang ke mesjid dan memimpin shalat. Kemudian beliau merasa terlalu lemah melakukannya. Para Sahabat telah begitu biasa dengan kehadiran beliau di tengah-tengah keseharian mereka, sehingga mereka sukar dapat mempercayai beliau akan wafat. Pada suatu hari beliau menyinggung lagi kepergian beliau.
 
Beliau bersabda, “Jika seseorang membuat suatu kesalahan, lebih baik ia memperbaikinya di alam dunia ini juga sehingga ia tidak akan menyesal di akhirat kelak. Oleh karena itu, aku katakan jika aku mempunyai suatu kesalahan terhadap seseorang dari antara kamu, walaupun tidak dengan disengaja, baiklah ia tampil ke muka dan mintalah supaya aku memperbaikinya. Jika aku, tanpa setahuku sekalipun, telah menyakiti seseorang di antara kamu, tampillah ke muka dan lakukanlah pembalasan.
 
Aku tidak ingin dipermalukan jika aku menghadap Tuhan di akhirat.” Hati para Sahabat tersentuh.
Mereka mencucurkan air mata. Jerih payah apa yang tidak dialami oleh beliau, dan penderitaan-penderitaan apa yang tidak dipikul oleh beliau untuk kepentingan mereka? Beliau menderita lapar dan dahaga supaya mereka mendapat cukup makan dan minum. Beliau menjahit sendiri pakaian beliau dan beliau memperbaiki sendiri sepatu beliau supaya orang-orang lain berpakaian baik. Namun, sekarang beliau ingin sekali memperbaiki kesalahan-kesalahan khayali yang mungkin dilakukan beliau terhadap orang-orang lain; sejauh itulah beliau menjaga serta menghormati hak-hak orang-orang lain.

Semua Sahabat menerima tawaran Rasulullah s.a.w. itu dengan hening. Tetapi, seorang Sahabat tampil ke muka dan berkata, “Ya Rasulullah, aku pernah sekali mendapat sakit dari anda. Kami sedang bergerak menuju medan pertempuran, ketika anda jalan ke barisan kami sambil lalu, anda telah menyikut sisiku. Itu dilakukan dengan tidak disengaja, tetapi anda mengatakan bahwa kami boleh membalas kesalahan-kesalahan sekalipun tak disengaja. Aku ingin membalas kesalahan ini.”
 
Para Sahabat yang telah menerima tawaran Rasulullah s.a.w. dengan hening menjadi berang. Mereka marah atas kekurangajaran dan ketololan orang yang sama sekali tidak mengerti akan jiwa tawaran Rasulullah s.a.w. dan kekhidmatan peristiwa itu. Tetapi,  agaknya Sahabat itu berkeras kepala dan bertekad berpegang kepada perkataan Rasulullah s.a.w. Rasulullah s.a.w. bersabda, “Silakan engkau menuntut balasan.”
 
Beliau membalikkan punggung beliau kepadanya dan bersabda, “Biarlah, pukullah seperti aku telah memukulmu.” “Tetapi,” kata orang itu, “ketika anda memukulku, sisiku telanjang, karena aku pada saat itu tidak memakai kemeja.” “Tarik ke atas kemejaku,” sabda Rasulullah s.a.w., “dan biarkan dia sikut sisiku dengan sikunya.” Mereka menaikkan kemeja Rasulullah s.a.w.; tetapi, ia bukan memukul sisi Rasulullah s.a.w., melainkan ia membungkuk dengan mata berlinang-linang dan mengecup tubuh Rasulullah s.a.w. yang terbuka.
 
“Apa ini?” tanya Rasulullah s.a.w.
“Bukankah anda katakan bahwa hari-hari anda bersama kami tinggal sedikit lagi? Masih berapa kali lagi kami akan menyentuh anda untuk mengungkap rasa cinta dan rindu kami kepada anda? Memang betul anda pernah menyikutku, tetapi siapakah orangnya yang berniat menuntut balas. Aku mempunyai pikiran itu sekarang, dengan tiba-tiba anda menawarkan untuk mengadakan pembalasan. Aku berkata kepada diriku sendiri: Biarlah aku mengecup anda dengan berpura-pura hendak menuntut balas.”

Para Sahabat tadinya penuh keberangan, sekarang mulai menginginkan pikiran itu timbul dalam benak mereka.
 
Dicuplik dari "Riwayat Hidup Rasulullah Saw (Life of the Holy prophet)  karya HM Bashiruddin Mahmud Ahmad" hal : 206 s/d 208
 
Semoga memberikan hikmah bagi kita semua …
 
 
Kepribadian Dan Watak Rasulullah


Setelah dengan singkat melukiskan peristiwa-peristiwa yang menonjol di dalam kehidupan Rasulullah s.a.w., sekarang akan kami coba membuat suatu sketsa mengenai watak beliau. Dalam hubungan ini kami mempunyai bukti dari persaksian-persaksian secara kolektif yang dinyatakan kaumnya sendiri tentang watak beliau sebelum beliau mendakwakan kenabian. Pada masa itu beliau dikenal di kalangan bangsanya sebagai Al-Amin - si Jujur dan si Benar (Hisyam).
 
Di tiap-tiap zaman banyak orang hidup yang bersih dari tuduhan tidak jujur. Banyak juga orang yang tidak pernah dihadapkan kepada cobaan atau godaan yang berat, dan dalam urusan serta perkara biasa yang dijumpai dalam kehidupannya, mereka berlaku setia dan jujur, tetapi mereka tidak dipandang layak untuk ditonjolkan. Pujian istimewa hanya diberikan jika kehidupan seseorang menggambarkan beberapa nilai akhlak yang tinggi lagi menonjol.
 
Tiap-tiap prajurit berangkat kemedan perang mempertahankan nyawanya dalam bahaya, tetapi tidak setiap prajurit Inggris dipandang layak menerima anugerah lencana
Victoria Cross; tidak pula prajurit Jerman semacam itu dianugerahi lencana Iron Cross. Beratus-ratus ribu orang Perancis bergelut dalam penyelidikan-penyelidikan ilmiah, tetapi tidak tiap-tiap orang dari antara mereka dianugerahi lencana Legion of Honour.

Oleh karena itu, hanya kenyataan bahwa seseorang dapat dipercaya dan jujur, tidak menunjukkan bahwa ia memiliki keistimewaan dalam perkara itu; tetapi, jika seluruh kaum sepakat memberikan kepada seseorang julukan “Al-Amin” maka nyatalah sudah bahwa orang itu memiliki sifat-sifat itu dalam taraf yang luar biasa tingginya. Jika hal itu merupakan kebiasaan kaum Mekkah untuk memberikan kepada beberapa orang dalam tiap-tiap generasi julukan ini atau sebangsanya, maka tiap-tiap orang yang menerimanya akan dipandang memiliki sifat itu dalam taraf yang tinggi.
 
Tetapi, sejarah Mekkah dan Arabia tidak menunjukkan adanya tanda bahwa sudah merupakan kebiasaan orang-orang Arab memberikan julukan demikian atau sebangsanya kepada perseoranganperseorangan yang terkemuka dalam tiap-tiap generasi. Sebaliknya, sepanjang kurun zaman sejarah Arab kita dapati bahwa hanya dalam peristiwa Rasulullah s.a.w. kaumnya sepakat memberikan gelar “Al-Amin”. Hal itu menjadi bukti bahwa Rasulullah s.a.w. memiliki sifat-sifat itu dalam kadar begitu tinggi sehingga dalam pengetahuan dan ingatan kaumnya tidak ada orang lain dapat dipandang menyamai dalamhal itu. Kaum Arab terkenal dengan ketajaman otak mereka dan apa-apa yang mereka pandang langka, pastilah sungguh-sungguh langka lagi istimewa.

Ketika Rasulullah s.a.w. diperintahkan oleh Tuhan untuk memikul beban dan tugas kenabian, maka istri beliau, Khadijah, menyatakan dan menjadi saksi atas ketinggian nilai-nilai akhlak beliau, ihwal itu telah dituturkan dalam bagian riwayat hidup Kitab Pengantar ini.
 
Kami sekarang akan lebih lanjut melukiskan beberapa budi pekerti luhur Rasulullah s.a.w., sehingga pembaca dapat memahami segi-segi watak beliau yang umumnya kurang dikenal.
 
Diriwayatkan tentang Rasulullah s.a.w. bahwa segala tutur kata beliau senantiasa mencerminkan kesucian dan beliau (tidak seperti orang-orang kebanyakan di zaman beliau) tidak biasa bersumpah (Tirmidhi). Hal itu merupakan suatu kekecualian bagi seorang Arab.
 
Kami tidak mengatakan bahwa orang-orang Arab di zaman Rasulullah s.a.w. biasa mempergunakan bahasa kotor, tetapi tidak pelak lagi bahwa mereka biasa memberikan warna tegas di atas tuturan mereka dengan melontarkan kata-kata sumpah dalam kadar yang cukup banyak, suatu kebiasaan yang masih tetap bertahan sampai hari ini juga. Tetapi Rasulullah s.a.w. menjunjung tinggi nama Tuhan sehingga beliau tidak pernah mengucapkan tanpa alasan yang sepenuhnya dapat diterima.
Beliau sangat memberi perhatian, bahkan cermat sekali, dalam soal kebersihan badan.
 
Beliau senantiasa menggosok gigi beberapa kali sehari dan begitu telaten melakukannya sehingga beliau biasa mengatakan bahwa andaikata beliau tidak khawatir kalau mewajibkannya akan memberatkan, beliau akan menetapkan menjadi kewajiban untuk tiap-tiap orang Muslim menggosok gigi sebelum mengerjakan kelima waktu sembahyang.
 
Beliau senantiasa mencuci tangan sebelum dan sesudah tiap kali makan, dan sesudah makan beliau senantiasa berkumur dan memandang sangat baik jika tiap-tiap orang yang telah memakan masakan berkumur lebih dahulu sebelum ikut bersembahyang berjamaah (Bukhari).

Dalam peraturan Islam, mesjid itu satu-satunya tempat berkumpul yang ditetapkan untuk orang-orang Islam. Oleh karena itu, Rasulullah s.a.w. sangat istimewa menekankan kebersihan mesjid-mesjid, terutama pada saat-saat orang-orang diharapkan akan berkumpul di dalamnya. Beliau memerintahkan supaya pada kesempatan-kesempatan itu sebaiknya setanggi dan sebagainya dibakar untuk membersihkan udara (Abu Dawud). Beliau memberi juga petunjuk supaya jangan ada orang yang pergi ke mesjid, saat diadakan pertemuan-pertemuan sehabis memakan sesuatu yang menyebarkan bau yang menusuk hidung (Bukhari).

Beliau menuntut agar jalan-jalan dijaga kebersihannya dan tidak ada dahan-ranting, batu, dan semua benda atau sesuatu yang akan mengganggu atau bahkan membahayakan. Jika beliau sendiri menemukan hal atau benda demikian di jalan, beliau niscaya menyingkirkannya dan beliau sering bersabda bahwa orang yang membantu menjaga kebersihan jalan-jalan, ia telah berbuat amal saleh dalam pandangan Ilahi.

Pula diriwayatkan bahwa beliau telah memerintahkan supaya lalu-lintas umum tidak boleh dipergunakan sehingga menimbulkan halangan atau menjadi kotor atau melemparkan benda-benda yang najis, atau tidak sedap dipandang, ke jalan umum, atau mengotori jalan dengan cara apa pun, karena semua perbuatan itu tidak diridhai Tuhan. Beliau sangat memandang penting upaya agar persediaan air untuk keperluan manusia dijaga kebersihan dan kemurniannya. Umpamanya, beliau melarang sesuatu benda dilemparkan ke dalam air tergenang yang mungkin akan mencemarinya, dan memakai persediaan air dengan cara yang dapat menjadikannya kotor (Bukhari dan Muslim, Kitabal-Birrwal Sila)
 
Hidup Sederhana Rasulullah

Rasulullah s.a.w. sangat sederhana dalam hal makan dan minum. Beliau tak pernah memperlihatkan rasa kurang senang terhadap makanan yang tidak baik masakannya dan tidak sedap rasanya. Jika didapatnya memakan sajian serupa itu, beliau akan menyantapnya untuk menjaga supaya pemasaknya tidak merasa kecewa. Tetapi, jika hidangan tak dapat dimakan, beliau tidak menyantapnya dan tidak pernah memperlihatkan kekesalannya. Jika beliau telah duduk menghadapi hidangan, beliau menunjukkan minat kepada makanan itu dan biasa mengatakan bahwa beliau tidak suka kepada sikap acuh tak acuh terhadap makanan, seolah-olah orang yang makan itu terlalu agung untuk memperhatikan hanya soal makanan dan minuman belaka.
 
Jika suatu makanan dihidangkan kepada beliau, senantiasa beliau menyantapnya bersama-sama semua yang hadir. Sekali peristiwa seseorang mempersembahkan korma kepada beliau. Beliau melihat ke sekitar dan setelah beliau menghitung jumlah orang yang hadir, beliau membagi rata bilangan korma itu sehingga tiap-tiap orang menerima tujuh buah. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. tidak pernah makan sekenyang-kenyangnya, walaupun sekedar roti jawawut (Bukhari).
 
Sekali peristiwa, ketika beliau melalui suatu jalan, tampak kepada beliau beberapa orang berkumpul mengelilingi panggang anak kambing dan siap untuk menikmati jamuan. Ketika mereka melihat Rasulullah s.a.w., mereka mengundang beliau ikut serta, tetapi beliau menolak. Alasannya bukan karena beliau tidak suka daging panggang, tetapi disebabkan oleh kenyataan bahwa beliau tidak menyetujui orang mengadakan perjamuan di tempat terbuka dan terlihat oleh orang-orang miskin yang tak cukup mempunyai makanan.
 
Diriwayatkan bahwa pada peristiwa lain beliau ikut makan daging panggang. Siti Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. sampai hari wafat beliau tidak pernah sekali pun menikmati makan kenyang selama tiga hari berturut-turut. Beliau sangat hati-hati agar seseorang tidak pergi makan di rumah orang lain tanpa diundang. Pada sekali peristiwa, beliau diundang makan oleh seseorang dan beliau diharapkan membawa serta empat orang lain. Ketika beliau tiba di rumah si pengundang, agaknya ada orang keenam yang ikut beserta rombongan. Tuan rumah menjemput di pintu dan Rasulullah s.a.w. meminta perhatiannya dengan berkata bahwa sekarang mereka berenam dan terserah kepada tuan rumah untuk memutuskan, apakah orang yang keenam itu boleh ikut makan atau harus pergi.
 
Tentu saja tuan rumah mengundang juga orang yang keenam itu (Bukhari, Kitabal-Ath ‘ima). Bilamana Rasulullah s.a.w. duduk bersantap, beliau senantiasa mulai makan dengan ucapan Bismillahir-Rahmanir-Rahiim, dan segera sesudah selesai, beliau mengucapkan syukur dengan kata-kata: “Segala puji bagi Allah Yang telah memberi makan kepada kita; puji-pujian yang berlimpah dan ikhlas, dan selalu bertambah; puji-pujian yang tidak meninggalkan dalam pikiran seseorang kesan perasaan telah cukup memuji, melainkan menimbulkan rasa cukup pernah dikatakan, dan puji-pujian yang tidak akan berakhir dan menjadikan seseorang berpikir bahwa tiap-tiap perbuatan Ilahi layak dipuji dan harus dipuji.
 
Ya Allah, penuhi hati kami dengan keharuan-keharuan ini.” Kadang-kadang beliau memakai kata-kata ini, “Segala puji bagi Tuhan yang telah melepaskan lapar dan dahaga kami. Semoga hati kami senantiasa mendambakan puji-pujian-Nya dan jangan tidak bersyukur kepada Dia.” Beliau senantiasa mengingatkan para Sahabat supaya berhenti makan sebelum kenyang benar dan mengatakan bahwa makanan seseorang harus cukup membuat kenyang dua orang. Bilamana ada makanan yang istimewa dimasak dirumah, beliau senantiasa menyarankan supaya sebagian diberikan sebagai sedekah kepada tetangga-tetangganya; dan hadiah makanan dan benda-benda lain senantiasa dikirim dan rumah beliau ke rumah tetangga-tetangga (Muslim dan Bukhari, Kitabal-Adab).

Beliau selalu berusaha mengetahui dari wajah mereka yang ada beserta beliau kalau-kalau di antara mereka ada yang memerlukanpertolongan. Abu Hurairah menceriterakan peristiwa berikut:

Sekali peristiwa ia pernah mengalami lebih dari tiga hari tanpa mendapat makan. Ia berdiri di pintu mesjid dan melihat Abu Bakar lalu ke dekat dia. Ia bertanya kepada Abu Bakar arti ayat Al-Qur’an yang memerintahkan pemberian makan kepada fakir-miskin. Abu Bakar pun menerangkan artinya lalu pergi. Abu Hurairah, saat ia menceriterakan peristiwa itu, biasa mengatakan dengan rasa kesal bahwa ia pun mengerti arti ayat Al-Qur’an tersebut seperti Abu Bakar. Tujuan menanyakan kepadanya arti ayat itu ialah supaya Abu Bakar dapat menerka bahwa ia lapar dan menyediakan untuknya makanan. Tak lama kemudian Umar lewat dan Abu Hurairah juga meminta kepadanya untuk menerangkan arti ayat itu. Umar pun menerangkan artinya dan terus berlalu.
 
Abu Hurairah, seperti hatinya Sahabat-Sahabat lainnya, amat tidak suka meminta secara langsung, dan ketika ia merasa bahwa usaha menarik perhatian orang kepada keadaannya gagal, ia sudah tak bertenaga. Sayupsayup ia mendengar namanya dipanggil dengan suara mesra dan penuh rasa cinta. Ketika menoleh ke arah datangnya suara itu, dilihatnya Rasulullah s.a.w. memandang kepadanya melalui jendela rumah beliau sambil tersenyum.

Beliau menanyakan kepada Abu Hurairah, “Adakah kamu lapar?” yang dijawab oleh Abu Hurairah. “Sesungguhnya, ya Rasulullah, saya lapar.” Rasulullah bersabda, “Di rumahku juga tidak ada makanan; tetapi ada orang yang baru saja memberi susu secawan kepada kami. Pergilah ke mesjid dan periksalah, adakah juga di sana orang-orang lain yang lapar seperti kamu.” Abu Hurairah melanjutkan ceriteranya, “Aku berkata kepada diriku sendiri bahwa aku begitu laparnya sehingga aku takkan cukup meminum susu secawan itu, tetapi Rasulullah s.a.w. masih meminta juga kepadaku agar mengundang orang-orang lain yang mungkin keadaannya sama seperti aku; ini artinya aku akan mendapat bagian susu sedikit sekali. Tetapi aku harus melaksanakan perintah Rasulullah s.a.w., maka aku pun pergi ke mesjid dan kudapati enam orang duduk-duduk di situ.
 
Semua kubawa menghadap Rasulullah s.a.w.Beliau memberikan cawan susu itu kepada salah seorang dari mereka dan disuruhnya minum. Ketika ia sudah selesai dan cawannya telah dilepaskan dari mulutnya, Rasulullah s.a.w. masih mendesaknya minum lagi kedua kalinya dan ketiga kalinya sampai ia merasa kenyang betul. Dengan cara demikian juga beliau mendesak tiap-tiap orang dari keenam sahabat itu untuk minum sekenyang-kenyangnya. Tiap-tiap kali beliau meminta kepada salah seorang untuk minum, aku merasa cemas dan khawatir bahwa hanya sedikit sekali yang masih tersisa untuk diriku. Sesudah keenam orang itu minum susu sekenyang-kenyangnya, Rasulullah s.a.w. menyerahkan cawan itu kepadaku dan kulihat didalamnya terdapat masih banyak susu. Kepadaku pun beliau mendesak untuk minum sekenyang-kenyangnya dan menyuruhku minum untuk kedua dan ketiga kalinya dan akhirnya beliau minum sendiri sisanya, kemudian membaca doa syukur dan akhirnya menutup pintu “ (Bukhari, Kitabal-Riqaq).

Tujuan Rasulullah s.a.w. memberi giliran kepada Abu Hurairah terakhir sekali mungkin guna memberi pengertian kepadanya bahwa ia harus bertahan terhadap derita lapar itu dengan menyerahkan diri kepada Tuhan dan sebaiknya tidak menarik perhatian orang kepada keadaannya, walaupun dengan cara yang tidak langsung. Beliau makan-minum senantiasa dengan tangan kanan dan selalu berhenti tiga kali untuk bernafas di tengah-tengah minum. Salah satu sebabnya mungkin karena orang yang haus lalu minum air dengan meneguk sekaligus dapat minum terlalu banyak hingga mengacaukan pencernaannya.
 
Dalam urusan makan, aturan yang diikuti beliau ialah beliau memakan segala yang bersih dan halal, tetapi bukan untuk sekedar bersenang-senang atau menyebabkan orang lain tidak mendapat bagian. Seperti telah dinyatakan di atas, makanan beliau sehari-hari senantiasa amat sederhana, tetapi jika ada yang mempersembahkan kepada beliau suatu hidangan yang istimewa, beliau tidak menolaknya. Tetapi, beliau tidak mendambakan makanan lezat, walaupun beliau sangat gemar akan madu dan korma. Mengenai korma beliau sering berkata bahwa ada perhubungan erat antara seorang Muslim dengan pohon korma, daunnya, kulitnya, dan buahnya yang masak maupun yang mentah, bahkan biji buahnya yang keras sekalipun, semuanya dapat dipergunakan untuk ini dan itu, dan tidak ada bagian yang tidak berguna. Demikianlah keadaan seorang Muslim sejati.
 
Tidak ada perbuatannya yang tanpa faedah dan apa saja yang dilakukannya akan meningkatkan kesejahteraan umat manusia (Bukhari dan Muslim).

Rasulullah s.a.w. sangat sederhana dalam berbusana. Pakaian sehari-hari beliau terdiri atas kemeja dan izar (kain sarung) atau kemeja dan celana. Izar ataupun celana itu dikenakan oleh beliau supaya pakaian itu menutupi tubuh sampai kepada pergelangan kaki. Tidak berkenan di hati beliau kalau lutut atau bagian mana pun di atas lutut terbuka jika tak terpaksa. Beliau tidak menyukai pakaian, baik sebagai bagian dari pakaian atau pun sebagai kain gorden dan sebagainya, dan bahan yang padanya gambar-gambar telah disulamkan atau dicatkan, apalagi jika gambar-gambarnya besar dan dapat diartikan berhala atau benda-benda yang dipuja. Sekali peristiwa beliau melihat kain gorden tergantung di rumah beliau berlukiskan gambar-gambar besar dan beliau memerintahkan menanggalkannya. Tetapi beliau tidak berkeberatan memakai pakaian bergambar kecil-kecil yang tidak dapat diartikan seperti itu.

Beliau sendiri tidak pernah memakai kain sutera dan tidak memperkenankan kaum pria Islam mengenakan pakaian dari kain sutra. Untuk tujuan mengontentikkan surat-surat beliau kepada pemerintah-pemerintah tertentu berisikan seruan untuk menerima Islam, beliau meminta disiapkan sebuah cincin stempel, tetapi hendaklah terbuat dari perak dan bukan dari emas sebab, beliau mengatakan, memakai perhiasan emas dilarang untuk kaum pria Muslim (Bukhari dan Muslim).

Wanita Muslim diperkenankan memakai kain sutera dan emas, tetapi dalam hal ini pun Rasulullah s.a.w. memerintahkan supaya sifat berlebih-lebihan harus dicegah. Sekali peristiwa beliau meminta sumbangansumbangan untuk meringankan penderitaan fakir-miskin, dan seorang bangsawati mengorbankan sebuah dari gelangnya dan diserahkannya sebagai sumbangannya. Rasulullah s.a.w. berkata kepadanya, “Apakah tangan lainnya tidak perlu diselamatkan dari api neraka?” Wanita itu melepaskan gelangnya dari tangan lainnya dan diserahkannya juga untuk tujuan yang ada dalam pikiran beliau. Tidak seorang pun dari istri-istri beliau mempunyai perhiasan-perhiasan yang agak berharga dan wanita Muslim lainnya pun sangat jarang mempunyai perhiasan.

Sesuai dengan ajaran Al-Qur’an, beliau menyerukan agar tidak mengumpulkan dan menimbun uang atau emas-perak, karena beliau memandang hal itu merugikan kepentingan golongan miskin dari masyarakat dan mengakibatkan kacaunya ekonomi masyarakat dan itu adalah dosa. Sekali peristiwa Umar mengajukan saran kepada Rasulullah s.a.w.. Sebab beliau harus menerima duta-duta raja-raja besar, beliau disarankan agar sebaiknya menyuruh buatkan jubah indah lagi mewah untuk dikenakan beliau pada peristiwa-peristiwa resmi. Rasulullah s.a.w. tidak menyetujui saran itu dan bersabda, “Tuhan tidak akan ridha kepadaku mengikuti cara itu. Aku akan menerima tiap-tiap orang dengan pakaian yang biasa kupakai.”
 
Pada suatu ketika beliau menerima hadiah bahan pakaian dari sutera. Satu di antaranya diberikan kepada Umar. Umar bertanya, “Bagaimana akan dapat memakainya, kalau anda sendiri telah melarang memakai pakaian sutera?” Rasulullah s.a.w. menjawab, “Tiap-tiap hadiah tidak dimaksud untuk dipakai sendiri.” Maksud beliau
ialah, supaya Umar memberikan kepada istrinya atau anak perempuannya, karena pakaian itu dari sutera, atau untuk keperluan lain (Bukhari, Kitab al-Libas).

Tempat tidur Rasulullah s.a.w. juga sangat sederhana. Beliau tak pernah mempergunakan tempat tidur dari besi atau dipan, tetapi senantiasa tidur di atas tanah beralaskan sehelai kulit atau sehelai kain bulu unta. Siti Aisyah r.a., meriwayatkan: “Tempat tidur kami begitu sempit sehingga jika Rasulullah s.a.w. bangkit untuk tahajud, aku biasa berbaring miring dan meluruskan kaki saat beliau berdiri dan melipatnya kembali jika beliau sujud (Muslim, Tirmidhi, dan Bukhari, Kitab al-Ath’ima).

Beliau juga sama sederhananya bertalian dengan penataan tempat tinggal beliau. Rumah beliau terdiri atas satu ruangan dan sebuah halaman sempit. Seutas tali terentang di tengah kamar sehingga jika beliau menerima tamu, pada tali itu dapat digantungkan kain untuk digunakan sebagai kamar tamu yang terpisah dari bagian yang dipergunakan oleh istri beliau. Kehidupan beliau begitu sederhananya sehingga Siti Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa di masa hidup Rasulullah s.a.w., mereka sering terpaksa hidup dari korma dan air saja dan pada hari wafat beliau tidak ada makanan di dalam rumah kecuali beberapa butir korma saja (Bukhari).
 
 
Dicuplik dari "Riwayat Hidup Rasulullah Saw (Life of the Holy prophet)  karya HM Bashiruddin Mahmud Ahmad" hal : 216 s/d 221

 

 by : http://armansyah.swaramuslim.net

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://heri.blogsome.com/2006/05/04/hari-hari-terakhir-kehidupan-rasulullah/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.